Tips Mendeskripsikan Cerita Menjadi Terlihat Nyata

  • 2 min read
  • Mar 01, 2021

Dalam menulis sebuah narasi, pastinya pernah berpikir apa dan bagaimana aja penggunaannya supaya efektif? Dan bagaimana caranya agar bisa terlihat senyata mungkin. Oke, Kita bahas satu-satu ya… tetapi khususnya dalam pendeskripsian Indera.

Indera dalam deskripsi lebih sering digunakan untuk “show dont tell”. Pasti udah banyak yang tahu kan?

1. Penglihatan

Membuat cerita adalah tentang menuliskan sesuatu yang visual. Begitu pula dalam deskripsi. Pastikan pembaca bisa “melihat” apa yang kamu tulis. Pilih kata dan kalimat yang kuat dan efektif untuk yang bisa dipakai. Misalnya: “Pasir putih yang gemerlapnya bagai serpihan mutiara” akan terlihat lebih jelas di pikiran pembaca dibanding sekadar “Pasir putih” saja.

2. Suara

Ingat film, serial, atau acara TV terakhir yang kamu tonton. Pasti ada dialog, musik, soundtrack, suara suasana, dll, ya kan? Sahabat Sastra hanya perlu menerjemahkan suara tersebut ke dalam tulisan. Suara serak batuk, suara denting gelas, ban berdecit, misalnya.

3. Rasa

Rasa cokelat yang meleleh dari lava cake, atau pedas dan membakarnya rujak buah dengan 10 cabai, pasti punya kekhasan sendiri. Dengan ungkapan seperti itu pembaca tentunya akan ikut membayangkan, daripada hanya menuliskan coklat itu rasanya manis.

4. Sentuhan

Indera yang satu ini juga sangat bisa digunakan untuk mendramatisir sebuah keadaan. Kamu bisa maksimalkan lho. Cari lagi kata yang efektif untuk menggambarkan adegan/kejadian yang ingin kamu tulis. Biarkan pembacamu “merasakan” apa yang kamu tulis. Bagaimana rasanya menyentuh kepala yang botak, atau ujung pisau yang menyentuh kulit lehermu, bisa digunakan untuk keadaan dramatis.

5. Bau

Indera penciuman juga salah satu yang menarik untuk diterjemahkan ke dalam tulisan. Disebut-sebut indera ini punya kekuatan nostalgia yang kuat. Misal, wangi minyak telon yang mengingatkan kita akan masa kecil. yang berarti deksripsinya bisa dijadikn sebagai alat pemicu flashback.

Nah, udah ada 5 indera yang dibahas. Gimana menurut kalian? Ada tambahan?

Semua poin tersevut sebenarnya sangat bisa dipakai untuk mendramatisir keadaan atau menaikkan emosi, lho…

Sahabat Sastra juga bisa mengkombinasikannya dengan penggunaan metafora seperti yang ada di poin 1. Silahkan dicoba dan kreasikan. yang terpenting, ini adalah cara untuk “show dont tell”. Jadi, maksimalkan cara ini ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *