Cintaku Berawal dan Berakhir di Ujung Ketapel

  • 8 min read
  • Mar 01, 2021

Dengan sigap, tangan kananku memetik buah mangga yang warnanya sudah kekuning-kuningan. Tangan yang satu lagi memegang ranting pohon yang lumayan besar supaya tidak jatuh ke bawah (iya iyalah, masa jatuh ke atas). Untung juga rimbun pohonnya, jadi aku bisa sembunyi di atas. Sebentar-sebentar kulihat ke bawah, siapa tahu pamanku yang pelit ruarrrr biasa itu lewat. Bisa ditempelengnya aku kalo ketahuan mencuri mangganya, tanpa peduli aku ini perempuan lemah yang tak pantas ditempeleng, tapi pantas dibelai.

Kantong plastik hitam yang kuikatkan di pinggang celana pendek sudah penuh. Cukuplah kukira untuk bekal selama dua hari. Air liurku mendadak dangdut melihat mangga-mangga yang ranum itu. Karenanya, aku duduk di dahan dan mulai menggigit sebiji. Upss, tiba-tiba kulihat Ompung Jagur lewat sambil membawa cangkul. Pasti dia mau ke ladang. Matanya mendongak ke atas, melihat-lihat mangga yang bergelantungan. Behh, takut pula aku ditengoknya sedang wisata kuliner di atas. Bukan apa-apa, meski sudah bau tanah, Ompung Jagur ini punya mata yang kualitasnya pantas diacungin jempol.

Bulan lalu, kami pergi ke Pemandian Air Hangat bersama Rotua dan kakakku, Tiopan. Di sana jumpa sama Ompung Jagur yang sedang makan mie gomak di kedai. Dan kamipun akhirnya duduk sama sambil minum teh manis dan makan telor rebus. Matanya memandang ke bawah, ke arah danau dengan serius.

Lalu si Rotua tanya.

“Tengok apa kau, Ompung?”

Dengan kalem dijawabnya,

“Cok kau tengok dulu perempuan yang mandi di bawah sana. Tak ada sopannya kutengok. Masa mandi cuma pakai beha sama kolor.”

Alamakkk. Padahal mata kami saja tak sanggup lagi melihat perempuan itu dengan jelas.

Dan sekarang dia sedang ada di bawah pohon tempatku mencuri mangga dengan jarak pandang hanya sekitar empat meter. Dengan mata tertutup pun rasanya dia bisa melihatku. Aku mencoba diam tak bergerak. Sekarang dia mengais-ngais dedaunan di bawah dengan cangkulnya. Oh, pasti dia cari mangga yang jatuh. Duh, dasar si Ompung yang satu ini. Sudah tua masih juga hobbi makan mangga. Makan kadal kek, makan sedotan kek. Belum lagi kalo pamanku datang dan ketemu dengan Ompung Jagur ini. Pastilah mereka bakal duduk-duduk di bawah pohon sambil cerita.

Aku harus menghentikan kegiatan Ompung Jagur di bawah sana sebelum dia melihatku. Cepat-cepat kuhabiskan mangga yang sempat terhenti kumakan tadi. Kujilat, kuhisap, kuemut (bahh, jadi napsu akuJ) sampai akhirnya tinggal biji dan ketika Ompung Jagur hendak tengadah ke atas, kulemparkan biji mangga itu dan “plokkk”, jatuh tepat mengenai wajahnya.

Tanpa sempat berpikir, dia lari tunggang langgang sampai lupa sama cangkulnya. Aku ketawa-ketiwi di atas pohon. Aku tahu betul bahwa Ompung Jagur ini terkenal paling penakut di seantoro kampung. Apa-apa dikiranya hantu. Ayam berkokok tengah malam, dia bilang ada hantu.. Angin berdesir di malam hari, dia bilang hantu sedang lewat. Kucing ribut di atas genteng, dia bilang hantu yang berkelahi. Dia lihat ada bergerak-gerak malam-malam di bawah pohon nangka, eh dia tahu itu bukan hantu, tapi tetangga yang lagi pacaranJ

Aku ambil lagi mangga kedua dan segera memakannya. Upss, Ompung Jagur datang lagi mendekat dengan wajah ketakutan sambil menunduk-nunduk. Ngapain lagi si tua ini, pikirku dalam hati. Oh, rupanya dia mau ambil cangkulnya yang ketinggalan. Plokkk, kulempar lagi mangga yang baru setengah kunikmati dagingnya dan kembali Ompung Jagur lari pontang-panting.

Cukuplah dua mangga untuk sore yang cerah ini, ucapku dalam hati. Segera kuketatkan ikatan kantong plastik di pinggang celana dan bersiap hendak turun ke bawah. Tiba-tiba .

“Twingggg”

Kepalaku serasa berputar-putar saking sakitnya. Bedebah!. Kupegang kuat-kuat belakang kepalaku sambil meringis kesakitan. Ago amangg, sakit kali kurasa. Sampai air mataku keluar menahan sakit. Kurang ajar. Siapa pula yang tega mengketapel aku sesadis ini. Apa mungkin Ompung Jagur? Ah, tak mungkin! Kecuali matanya, dia itu sudah letoy semua, atas dan bawah, tangan dan kaki. Tak mungkin dia mampu mengketapel aku sekuat itu.

Segera aku meluncur ke bawah. Demi penguasa bumi dan langit, akan kutemukan orangnya dan akan kukoyak-koyak seperti ayam yang diperkosa kambing, meski aku belum pernah lihat bagaimana cara kambing memperkosa ayam. Mataku berkeliling dari utara ke selatan, melintasi ilalang-ilalang di sepanjang ladang dan kulihat sesosok makhluk di kejauhan sedang memegang katapel.

Aku segera pasang kuda-kuda, kuambil dua buah batu-batu seukuran telor ayam dan segera meyusul. Kau akan rasakan nikmatnya telor ini, Bangsat, eh, maksudku batu sebesar telor ini bangsat, ucapku dalam hati. Lalu dengan gaya Xena The Warrior, aku berlari ke arahnya dengan tangan siap siaga untuk melempar.

Sekitar lima meter lagi, kecepatan kakiku mendadak hang. Dari jarak sedekat ini, baru bisa kulihat wajahnya dengan jelas. Alamakkk, kurasa inilah makluk Tuhan yang paling seksi yang dibilang si Mulan Jamila itu. Matanya macam telaga kutengok. Beningnya mengalahkan beningnya air danau Toba. Hidungnya runcing seperti….,entah seperti apalah itu. Bibirnya penuh dan badannya tegap seperti tiang rumah. Kulitnya coklat dan bersih. Dan yang paling penting tak ada kumisnya. Aku memang tak suka tengok laki-laki pakai kumis. Macam sapu ijuk miniatur dipajang di atas bibir kutengok .

Tak kusadari batu bertelor (itulah kan, udah jadi gugup aku jadinya), maksudku batu sebesar telor tadi terlepas dari tanganku. Betul-betul terpesona aku melihatnya. Sempurna kali kurasa laki-laki itu. Semua yang ada padanya terlihat indah. Bahkan ketapel yang dia pegang pun sudah terlihat seperti setangkai mawar merah di mataku. Dia keheranan melihatku yang seperti sebatang es meleleh di panas hari.

Untung aku cepat tersadar. Kalo tidak, bisa tak berbekas jadinya aku karena keburu mencair .

“Ada tadi yang mengketapel kepalaku. Kau kan?’ aku tak sempat lagi mengarang indah. Apa yang ada di kepalaku, itu jualah yang kuucapkan.

“Oh, “ tiba tiba ekspressinya berubah dan menunjukkan rasa bersalah dengan cara mendekatiku.

“Sori, sori, ito. Aku gak tahu. Aku belum pernah pakai ketapel soalnya. Maksudku tadi mau ketapel ke arah barat, kog lepasnya ke arah timur ya.”

Bahh, cemmana pula jalannya bisa begitu, pikirku dalam hati.

“Apanya yang kena, ito. Bisa aku lihat?”

Wahh, kesempatan bagus ini. Seumur-umur belum pernah ada orang yang mau pegang kepalaku. Eh sekalinya ada yang mau, langsung manusia kembarannya si Beret Pit.

Segera kusodorkan kepala yang memang masih berdenyut-denyut kurasa. Kemudian dia memegang kepalaku dan serrr, darahku sepertinya mau keluar. Sial juga, pikirku dalam hati. Harusnya tadi kena ketapel di bagian yang lebih dalam. Di perut atau dipaha.J

“Wahh, bengkaknya lumayan juga, ito. Gimana ya. Rumahmu di mana, ito? Aku bukan orang kampung sini. Aku ini temannya Bonggas dari Medan. Kebetulan liburan di sini. Ito kenal Bonggas?”

“Oh, kau kawannya si Bonggas. Ya tahulah. Dia itu dulu satu SDku,”

“Eh , kita belum kenalan. Namaku Freddy. Marga Naibaho. Aku orang Medan, rumahku di Simpang Limun. Pernah dengar Simpang Limun?”

“Simpang Tiga pernah. Limun juga pernah. Jualan mamakku itu. Tapi Simpang Limun belum pernah,”

“Ha ha ha. Lucu juga kau, ito. Boru apa kau?”

“Aku boru Simbolon. Namaku Ria,”

“Wah, bagus juga namamu ya. Biasanya orang kampung namanya Tiurma. Tiopan, Rotua, Tiamsa.”

“He he,” aku terkekeh. Padahal sudah mau kutendang pantatnya. Dia namai semua keluarga besarku. Tiurma itu nama kakak iparku, Tiopan itu nama kakakku, Rotua itu nama anak pamanku dan Tiamsa itu nama mamakku.

Tiba-tiba dari rimbunan ilalang muncul lagi orang yang ternyata si Bonggas.

“Freddy, kog lama kali kau pulang. Ada dapat burungnya? Eh, kog bisa kau di sini, Lamria,” Bonggas nampak terkejut melihatku disitu.

“Lho, namamu Lamria? Kog kamu tadi bilang Ria?” Freddy bertanya dgn wajah kebingungan. Malu kali aku jadinya..

Tawa Bonggas lantas meledak.

“Ha ha ha. Dia bilang namanya Ria ya, Fred? Namanya Lamria. Lamria. Simbolon. Biasa dipanggil Lappet.”

”Brukkk,” kutendang pantatnya sampai dia terjatuh.

Mampus kau. Biar sekalian makin tepos pantatmu yang tak seksi itu.

Bonggas meringis kesakitan.

“Kan betul yang kubilang. Kau kan dipanggil si Lappet. Kenapa kau jadi marah samaku? Kau tendang pula pantatku.” Bonggas berusaha berdiri.

“Kau juga dulu dipanggil si Kolor. Bukan karna kolormu banyak tapi justru karna kolormu robek semua,” langsung saja kubeberkan masa silamnya yang suram dulu.

“Ha ha ha ha ha, “ Freddy terbahak-bahak.

“Lucu kali kutengok kalian berdua bah. Masa teman masa kecil tapi sekali bertemu langsung perang dunia.”

Bonggas menepuk-nepuk pantatnya yang kotor karna rumput dan tanah.

“Aku tadi tak sengaja mengketapel kepalanya, Bonggas. Sampai bengkak kutengok. Kan jadi gak enak hatiku.

“Bahh, kok bisa pula jadi kepala si Lappet ini kau ketapel. Memangnya mirip kali kau tengok kepalanya dengan sarang burung? Cok kutengok dulu kepalamu, Lam,” Bonggas meraih kepalaku dan menekan kuat-kuat benjolan hasil karya ketapel tadi.

“Aghhhh, kurang ajar kali kau, Bonggas. Kau kira gak sakit kau tekan begitu,? Aku menjerit sambil berusaha melepaskan kepalaku dari tangannya.

“Diamlah dulu. Ini bukan menekan, Dodol. Ini biar darah yang menggumpal tadi kembali lancar, “ Bonggas mengkusuk kepalaku sementara Freddy memperhatikan dengan serius. Sudut mataku mencuri-curi wajahnya.. Gantengnya, pikirku dalam hati. Rasanya sampai seumur ini, belum pernah kutengok laki-laki seganteng ini di dunia persilatanku.. Kulirik lagi wajahnya dan tiba-tiba dia juga melirikku. Alamakkkk, gempa bumi mendadak berskala 8,2 Richter di dalam jantungku.

“Sudah. Nanti di rumah kau olesi minyak urut aja. Besok juga sudah sembuh. Tapi kau cuci dulu rambutmu nanti, Lam. Banyak kali kutengok kutumu,:

Bahh, bencinya aku tengok si Bonggas ini. Tega-teganya mempermalukan aku di hadapan pujaan hatiku.

“Ya sudah, kita pulang saja, Fred. Kita diajak Si Parda jalan-jalan ke pemandian air hangat pakai mobil pick up pamannya. Mumpung lagi tak dipake. Eh, Lappet, kau mau ikut gak? Kalo mau, biar kami tunggu kau di rumah?’

Ke pemandian air hangat? Naik mobil Pick Up? Dengan si Beret Pit Naibaho ini?. Jangankan naik pick up, sambil lompat gonipun pasti aku mau.

“Ya, pasti maulah..” jawabku kegirangan.

Lalu kami bertiga pulang. Bonggas jalan di depan, aku di tengah dan Freddy di belakang. Perasaanku, Freddy sengaja berjalan paling belakang agar bisa menikmati lenggak lenggok tubuhku. Agooo amang!! Ingin rasanya jalan ini tak berujung agar aku bisa dekat-dekat dengan si Freddy yang ganteng ini.

*****

Sudah seminggu sejak bertemu dengan Si Beret Pitt itu aku tak bisa tidur tenang lagi. Selalu saja kupikirkan wajahnya. Inikah yang namanya jatuh cinta? Seingatku waktu aku SMA kelas 2 aku juga pernah merasakan suka dengan si Saur, tapi rasanya tak separah ini. Aku hanya senang bila melihatnya di pasar sedang narik becak berisi barang-barang orang. He he, Si Saur memang seorang tukang becak barang. Tapi kalo tak ketemu di pasar, ya tak apa-apa. Tak sampai kecarian aku seperti sekarang ini.

Oh Freddy, betapa ketapelmu telah menimbukan benjolan di kepalaku dengan bonus cinta di hatiku. Selama seminggu, aku seperti hantu yang mengikuti kemanapun dia pergi. Waktu kutahu, mereka pergi main bola volley ke Pasir Putih di Parbaba, aku pun nekad ke sana naik sepeda. Soalnya bapak kami tak punya motor dan kalaupun punya, manalah tau aku menghidupkannya. Kog tidak naik angkot? He he , manalah ada duitku buat ongkos.

Sampai di Pasir Putih, dengan percaya diri aku bergabung dengan mereka bermain volley. Kusengaja terjatuh persis di dekatnya dengan harapan dia akan menolongku. Meski tak juga tergerak hatinya menolongku, aku sudah cukup senang saat dia bilang, “Berdiri kau, ito, nanti dipijak si Bonggas kau.” Rasanya yang masuk ke telingaku adalah “ Bangun, Sayang. Aku takut badanmu nanti tertimpa si Bonggas. Aku tak bisa lihat tubuhmu yang indah itu terluka.” Alamakk. Enak juga rupanya jatuh cinta ini.

******

Sudah pukul tiga sore ternyata. Aku terbangun dan segera meloncat. Hiyattt. Dan akibatnya kakakku Tiopan yang sedang menjahit kebaya pesanan orang terkejut sehingga tangannya tertusuk jarum pentul.

“Lappettttttttt” dia menjerit saking kesalnya.

“Apa pula kau. Jarum yang tusuk tanganmu kog aku yang kau maki,” seruku tak menerima.

“Tapi kau yang membuatku terkejut, Bodat.”

“Ah selalu saja kakak begitu. Sikit sikit aku. Sikit sikit aku, “ aku merengut seraya memeriksa isi meja makan.

”Buat apa kau buka-buka tudung saji itu. Kau mau makan lagi? Ingat orang lain. Bapak belum makan siang sama si Togu. Makan aja kutengok kerjamu. Tengok perutmu itu, sudah kayak orang hamil 5 bulan. Masa anak gadis taunya makan aja. Disuruh ke ladang malah curi mangga orang. Disuru cuci kain malah lari ke Parbaba.” Kak Tiopan terus nyerocos tak henti-henti.

“Mau kemana kau,” tanyanya saat aku keluar bawa ketapel.

“Mau mengketapel kau dari ujung jalan sana, biar pas ke sasaran, jawabku cuek. dan segera pergi.

“Lappettttttttttt”

Aku lari secepat kilat sebelum kak Tiopan itu mengejatrku pakai sapu lidi

Tadi pagi kudengar Bonggas dan Freddy mau cari burung di Batu Bolon dan aku berniat meminjamkan ketapel simpananku ini untuknya. Siapa tau hatinya tersentuh dan bisa mernimbulkan getar-getar cinta dihatinya sebelum pulang ke MEdan lusa.

Sampai di Batu Bolon aku melihat-lihat ke sekeliling. Nah, itu mereka sedang duduk di balik batu besar. Kayaknya sambil makan-makan pula itu.. Pelan-pelan aku mendekat dan sembunyi di balik batu dengan maksug meberi kejutan. Sayup-sayup kudengar suara mereka

“Iya, Fred. Kayaknya si Lamria itu cinta berat sama kau. Hati-hatilah kau,” kudengar suara si Bonggas.”

“Ha ha ha. Kenapa pula aku harus hati-hati. Kalau dia cinta samaku, ya cintailah sesuka hatinya. Yang pendting aku kan gak suka sama dia.”

Deg!

“Sebetulnya dia itu baik lho, Fred. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Memang dia jelek, gendut, pendek, hitam, dan tomboy. Tapi hatinya baik. Dia sering bantu ompungku ambil air ke danau meski sepulangya pasti dia curi dulu jagung rebus ompung

dari dapur.

“Ha ha ha, “ tawa Freddy makin kuat.

“Sebaik apapun dia, manalah mungkin aku mau sama dia, Bonggas. Ada –ada saja kau. Lihat hitamnya saja aku sudah ketakutan. Apalagi mau manjadikannya pacar? Ihh, kau membuatku mimpi buruk nanti malam,”

Pembicaraan selanjutnya tak kudengar lagi. Perasaan heboh yang kurasakan seminggu ini perlahan-lahan menguap dan tidak berbekas lagi. Naluri Batakku yang pantang dilecehkan membuat perkataan Freddy barusan telah membabat habis rasa yang kukira cinta itu. Aku berdiri dan menjauh, kemudian berputar mencari tempat yang sangat strategis dimana aku bisa melihat wajah mereka berdua. Setelah dapat tempat yang sangat bagus, kurogoh saku celana dan mengeluarkan batu yang paling berat dan hitam. Kutarik ketapelku dan konsentrasi tingkat tinggi kuarahkan ketapelku ke wajah Si Freddy dan,

“Aughhhhhh. Aduhhhh. Aduhhhhhhhh.

Kumasukkan ketapel ke saku celana dan pulang ke rumah sambil bersiul.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *