Aku Bersamamu, Mba!

  • 11 min read
  • Mar 01, 2021

“Mbaaak..!!!” aku berteriak sekecangnya dan berusaha untuk meraih tangannya, apa daya hanya ujung jarinya yang dapat ku sentuh dan akhirnya ia terbawa arus yang deras. Aku menangis sejadi-jadinya. Kakakku satu-satunya hilang terbawa air sungai yang deras.

“Ning..Ningsih..Nduk..” sebuah tangan mengguncangkan badanku dengan keras “Bangun.. anak gadis koq malas bangun. Sudah shubuh neh! Ayo toh bangun.. bantu ibu ke ladang trus ambil kayu.” Aku terhenyak seakan tidak percaya “Ha!! Ternyata aku bermimpi!” berulang kali aku mengucek – ngucek mataku memastikan apa yang barusan terjadi. Ku cubit kulitku , ku tampar pipi untuk memastikan bahwa aku tadi bermimpi. “Ya benar aku bermimpi!”

“Ibuuuuuu..” kembali aku berteriak tak kalah nyaring memenuhi seisi rumah. Tetapi ini kali bukan mimpi. “Mba Nur..Mba..! Ibuuu..” berkali-kali aku memanggil nama mereka tetapi sepi. Aku mulai panik. “jangan-jangan..” Arrggghh mulai tumbuh pikiran jelek.

Tetapi ketika langkahku hendak menuju ruang tamu , ku dengar suara Mba Nur di teras rumah. Ooh rupanya dia sedang berbicara dengan seseorang. Hmm.. pantas dia tidak mendengar ternyata dia sedang serius bicara dengan seorang lelaki. Hatiku menjadi lega karena semua itu hanya mimpi. Lalu aku pun bergegas untuk mandi.

Ternyata ibu sedang dihalaman belakang sedang memberi makan kambing-kambing. “Sudah sana mandi. Jangan terlalu malas toh jadi anak gadis. Tadi kenapa kamu tuh teriak-teriak?” tanya ibu , tetapi pandangannya terus menatap kambing piaraan kami. “Mimpi buruk bu. Mba Nur terseret air yang deras.” Jawabku pelan dan melangkah ke kamar mandi yang letaknya diluar tidak jauh dari kadang kambing.

Semua perlengkapan sudah siap. Aku dan ibu siap berangkat ke ladang lalu mencari kayu untuk dijual. Namun, ku lihat murung wajah mba Nur. “Napa toh Mba? Sakit? Tanyaku cemas. Mba Nur hanya menggeleng pelan, lalu ia menjawab, “Aku mau ke Jakarta Ning. Ikut Mas Pur.” Aku terperanjat mendengar jawaban Mbak ku satu-satunya ini dan lebih herannya lagi untuk apa ke sana? Dengan Mas Pur pula? Dia itu siapa berani sekali mengajak mbakku pergi.Berbagai pertanyaan muncul dikepalaku.

“Mba Nur, mau ngapain di Jakarta? Sudah tidak mau lagi tinggal dengan Bapak dan Ibu ya?” Ia hanya terdiam dan tak lama ibu datang. “Ayok nduk berangkat keburu siang. Nur, nanti sebelum berangkat mengajar , jangan lupa kue-kue ibu yang diatas meja dibawa ya .” selesai mengucapkan salam , aku dan ibu meninggalkan mba Nur yang masih terpaku . Entahlah apakah perkataan ibu tadi masuk ke dalam ingatannya atau tidak.

Di ladang hari ini panen besar. Keranjang yang kami bawa dari rumah sudah penuh dengan cabai merah dan kacang panjang. Aku suka melihat kelimpahan dari hasil dari keringatku dengan ibu. Walaupun aku tidak selesai melanjutkan sekolah karena ibu dan bapak tidak sanggup membiayaiku lagi. Tetapi aku merasa cukup trampil dalam hal pertanian. Bahkan kambing di rumah itupun aku piara sejak kecil sekarang sudah beranak dan sedikit membantu perekonomian keluarga.

Kadang, aku iri juga dengan Mba Nur, ia sering dimanjakan oleh ibu dan bapak. Apapun kemauanya pasti dituruti juga dia adalah cucu kesayangan mbah. Aku iri kalau ia mendapat semua perhatian tetapi aku tidak. Bahkan aku seperti pembantu jika ada tamu datang ke rumah dan selalu punya kewajiban membereskan rumah.

Ibu menegorku dengan melemparkan cabai merah kemukaku “Melamun!” selalu saja tanpa eksrepsi jika ibu berbicara kepadaku. “Ngga Bu, Ningsih lagi mikir soal mba Nur.” Jawabku memberikan alasan “Kenapa dengan Mba mu itu?Tadi Ibu lihat dia baik-baik aja.” Aku ingin meneruskan percakapan tetapi rasanya waktunya tidak tepat. Ibu sangat sibuk dengan hasil panen kali ini. Dan siap – siap diangkut dengan mobil yang lewat untuk dibawa ke pasar untuk dijual pada satu toko.

Aku menemani ibu sambil menjaga hasil panen kami. Ibu dan dua orang ibu yang lain bicara asik sekali tentang sebuah basa-basi yang tidak jelas bagiku. Aku hanya mengalihkan pikiranku melihat pemandangan ladang desa. Jalan yang aku lalui tadi pagi bersama ibu sangat panjang ternyata aku dan ibu cukup jauh berjalan dari rumah. Diujung sana lukisan gunung seakan seperti dinding penutup jalan. Indah sekali desaku ini.

Dipasar yang cukup ramai, penuh wajah-wajah yang tersenyum mencari keuntungan. Aku duduk di depan toko dimana ibu menjual hasil panen. “Nduk , lihat hasilnya lumayan. Ini buatmu” Ibu memberikanku lembaran Rp 20.000 yang menurutku jumlah itu sangat banyak. Aku tersenyum dan mengikuti ibu ke sebuah rumah makan. Ibu memesan makanan untuk kami berdua.

“Haloo Cah Ayu.. Apa kabar?” tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri aku. Hampir tersedak rasanya. “Pakde Gus bikin kaget. Baik pakde, ada berita apa?” biasanya memang pakde Gus ini akan memberikan pekerjaan lain untuk aku dan ayah yakni sebagai pemain wayang orang.

“Bisa pakde. Aku mau apalagi harus ke Kabupaten.. Waah aku mau!” jawabku penuh semangat mendengar tawarannya. “Ya pasti! Aku tadi juga ajak bapakmu dua hari yang lalu sebelum dia berangkat tukang. Dia bersedia dan bagaimana dengan kakakmu? Soalnya saya butuh satu pemain lagi sebagai peran Srikandi.” Aku menoleh ke ibu dan meminta persetujuannya tetapi tidak ada ekspresi sedikitpun.

“Ya sudah Pakde, nanti saya bicarakan dengan Mba Nur. Makasih loh Pakde.” Begitulah jawaban yang bisa ku berikan ke pakde Gus “Besok , saya kabari ya Pakde. Sekalian saya mampir ke tempat Risma.” Pakde Gus menepuk pundakku lalu pamit meninggalkan kami sambil tersenyum dan menunggu konfirmasi atas bersedia atau tidaknya Mba Nur ikut dalam pementasan wayang orang di Kabupaten.

Malam harinya , aku menghampiri Mba Nur yang sedang duduk termangu di teras rumah. Jangkrik malam ini bernyanyi cukup keras seakan menjadi musik yang indah ditelinganya. “Mba , bisa ngganggu sebentar?” tanyaku hati-hati takut mengganggu lamunannya. “Sini Ning, ada apa? Mau lanjutin percakapan tadi pagi ya?”

Mba Nur ini memang ramah, cantik dan juga pintar. Aku beruntung punya kakak seperti dia. Maklumlah dia kan guru walaupun guru SD tetapi anak muridnya banyak dan sayang dengan dia. Orang-orang dikampung juga lebih mengenal kakakku, kalau jalan berdua dan bertemu banyak orang , aku menyisih karena malu dan sungkan karena mereka lebih hormat kepada kakakku.

“Loh koq melamun? Ayo ada apa?” tangan Mba Nur melambai-lambai dimukaku. Aku tersipu malu. “Maaf mba, kata ibu sedari siang tadi aku ketahuan melamun terus.” Jawabku sambil menundukan muka karena malu. Mba Nur hanya tersenyum melihat ulahku. Kami terpaut dua tahun usianya.

“Pak de Gus tadi siang menawarkan acara Mba. Kita diminta untuk mengisi acara pementasan wayang orang di Kabupaten. Dan Mba diberikan kepercayaan memerankan tokoh Srikandi. Bagaimana mba?’ tanyaku penuh harap cemas dan akhirnya mba Nur menganggukan kepala “Jadi Mba setuju? Asik , kalau begitu besok aku beritahu Pakde Gus. Seneng aku akhirnya bisa ke Kabupaten.” Mba Nur tertawa mendengar celotehku dan aku peluk dia erat.

“Eits .. sudah toh senangnya. Ya sudah Mba mau tidur besok masih kerja. Emang kapan toh pementasannya?” Tanya Mba Nur sebelum beranjak pergi dari teras rumah. “Awal bulan depan Mba, hari Sabtu. Kostum sudah disiapkan koq mba, latihan seperti biasa di aula kelurahan”

Suasana gedung kesenian ini riuh dengan tepuk tangan. Mereka antusias sekali akan pertunjukan wayang orang yang kami tampilkan. Aku ada dideretan para pemain ikut tersenyum bangga dan merasakan aura yang luar biasa dari mereka yang menonton kami. Ketika dikamar ganti banyak sekali ucapan terima kasih dari sesama pemain dan beberapa tamu yang hadir. Tetapi ada seseorang disana yang sangat aku kenal dan pernah datang ke rumah. Ya ! dia adalah lelaki yang membuat Mba Nur menangis dan ingin ke Jakarta.

Bapak sedang merapikan make up nya dan sambil berbicara dengan bapak, aku menoleh ke arah Mba Nur dan lelaki itu. “Pakde Gus, memberikan ini pak.” Ujarku sambil menyodorkan sebuah amplop putih panjang ke tangan bapak. “Lumayan pak, untuk memperbaiki sepeda onthel bapak dan membeli alat-alat tukang pasti cukup.” Bapak hanya membelai rambutku tanpa banyak bicara.

Aku lebih cenderung terbuka dan bebas jiwaku jika bersama bapak. Walaupun diam tetapi ia menyimak perkataanku. Ketika kami sedang berbincang-bincang, Mba Nur menghampiri kami berdua. “Bapak, Ning, aku tidak bisa pulang bareng kalian ya. Mas Pur yang nanti antar aku pulang.” Pamit kakakku tetapi ku lihat lelaki yang bernama Mas Pur itu berdiri menjauh dari kami dan tidak ada tindakan apapun untuk berusaha mendekati kami.

“ Tetapi Mba Nur tidak akan pergi ke Jakarta kan?” aku tidak sadar dengan apa yang aku ucapkan terlebih lagi , disampingku ada bapak. Suasana sedikit berubah dan bapak menatap tajam ke arahku dan Mba Nur. “Aku pamit” demikian kalimat terakhir Mba Nur meninggalkan kami berdua lalu menggandeng lelaki itu keluar dari ruangan.

“Coba jelaskan apa maksud perkataanmu tadi kalau Mba mu akan ke Jakarta!” tegas bapak diruang tamu sesampainya kami dirumah. Ibu tidak bisa bicara apa-apa dan terlihat muka heran atas kemarahan bapak diwajahnya. “Aku hanya mendengar dari Mba Nur kalau dia mau ke Jakarta bersama Mas Pur. Aku tidak tahu ada keperluan apa. Mba Nur tidak cerita apa-apa lagi , Pak.” Jelasku sambil menahan rasa takut akan kemarahan bapak.

Baru kali ini aku melihat kekecewaan diraut wajahnya. “Udah toh Pak , kita tunggu sampai anaknya pulang baru dibicarakan lagi.” Bujuk ibu dan ternyata berhasil meredamkan amarah bapak. “Aku tuh tidak habis pikir dengan anakmu itu. Apa yang dia cari di Jakarta? Kita ndak punya saudara disana, mana sama lelaki yang tidak aku kenal. Lebih baik dikawinkan saja mereka itu !”

Suasana hening sekali didalam rumah bahkan jangkrik yang biasanya bernyanyi seakan ikut takut dengan geramnya bapak mengetahui rencana kakakku ke Jakarta. Tidak lama suara ketukan pintu depan terdengar. “Mba Nur?” aku terperanjat karena dia pulang sambil menangis dan tidak kulihat wajah lelaki yang tadi aku lihat di gedung pertunjukan yang telah pergi dengan kakakku ini. “Pak, sepertinya Mba Nur sedang ada masalah. Mungkin besok saja pak dibicarakan?” cegahku ketika bapak hendak berdiri dari tempat duduknya begitu melihat Mba Nur. Namun akhirnya ia mengalah begitu melihat muka sembab kakak.

Mba Nur terus menangis dalam pelukanku dan menyebut nama Mas Pur. Aduh , tambah runyam deh pikirku kalau sampai ayah tahu penyebabnya karena lelaki itu. Bisa dicari dan dibunuh karena telah membuat Mba Nur menangis. “Udah toh Mba, jangan nangis begini. Ntar pikiran ayah dan ibu jadi macem-macem kalau mendengar anaknya malam-malam pulang trus menangis.” Bujuk aku sekuat tenaga. “Lebih baik Mba istirahat dulu. Tenangin pikiran, besok pagi baru ceritain ya.” Aku membelai wajah dan rambut Mba Nur seperti kepada seorang anak kecil hingga tertidur. “Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Mba ku ini. Kuatkanlah hatinya semoga ia dapat melewati apapun yang ia alami.” Lalu aku tertidur di bawah tempat tidurnya.

Sinar matahari pagi terasa panas dimukaku. Aku melonjat karena kesiangan untuk membantu menanam palawija diladang. “Aduuh , koq ibu tidak bangunin aku ya?” serba salah aku merapikan bajuku dan kulihat wajah Mba Nur yang sembab mukanya dan baju kemarin yang berantakan dibadan karena dipakai tidur. Ketika ku sentuh badannya opps panas dan dahinya pun demikian.

Aku setengah berlari ke dapur dan hampir menabrak bapak yang hendak memperbaiki sepeda onthelnya dihalaman samping rumah. “Maaf pak, Mba Nur panas. Aku mau ambil air dan handuk kecil untuk kompres.” Kulihat bapak meninggalkan sepedanya sejenak lalu berjalan ke kamar Mba Nur. Aku segera menyiapkan segala sesuatunya supaya bisa menurunkan panas badan Mba Nur.

“Apa perlu dibawa ke dokter?” tanyaku cemas dan bapak juga menangkap kecemasanku serta menyetujui untuk dibawa ke dokter. Bapak berjalan keluar rumah dan datang membawa sebuah mobil colt warna biru. “Ibu mana pak? Tidak ada orang menjaga rumah.” Ketika beberapa orang menggendong kakakku ke dalam mobil. “Sudah biar Bapak yang menjaga rumah, ibumu sudah sejak subuh berangkat. Ini uang yang kemarin kamu kasih ke bapak semoga cukup untuk berobat kakakmu.” Aku tidak tega menerima amplop putih yang semalam aku berikan ke bapak tetapi kakak perlu pertolongan segera.

“Ibu Guru Nur terkena gejala typus. Tolong diperhatikan kesehatannya. Makannya harus teratur dan jangan terlalu banyak pikiran. Ini saya berikan resep dan surat istirahat selama seminggu.” Demikian diagnosa dokter puskesmas. “Dokter, apa kakak saya boleh pulang? Mungkin kalau dirawat disini biayanya tidak cukup.” Ucap saya terbuka. Dokternya hanya tersenyum dan berkata ,”Tidak masalah, dirumah lebih baik jika itu kemauan pasien dan keluarga.” Dengan erat aku menjabat tangan dokter yang masih terlihat ganteng untuk seusianya yang tidak tergolong muda lagi. “Mba, gimana keadaannya?” Ku lihat tangan mba Nur sudah diinfus selang. “Maafkan Mba ya Ning. Bikin repot kamu dan orangtua.” Ia meneteskan airmata dan membuatku semakin sedih.

“Sudah mba, istirahat dulu. Saya sebenarnya mau bawa mba pulang dirawat dirumah saja. Hmm.. Tapi..” suaraku terputus karena tiba-tiba ibu dan bapak sudah datang. “Nur, kamu tidak apa-apa nak?” aku lhat ibu begitu cemas dengan kakak dan menangis. Aku meninggalkan ruangan dan duduk didepan kamar memandang Puskesmas yang ramai dengan orang yang berobat. “Boleh bapak duduk?” suara bapak mengagetkanku. “Bapak, kayak orang asing aja. Silakan pak.”

Kembali tatapanku melihat keramaian di depan sana. “Bapak bangga dengan kamu Ning. Maaf kalau bapak tidak bisa kasih apapun untuk membahagiakan kamu.” Aku menoleh mendengar bapak bicara demikian. Ada rasa tidak percaya. “Bapak jangan berlebihan memujinya. Maksudnya apa sih bikin Ning curiga deh.” Jawabku cengar cengir tetapi ia hanya mengusap kepalaku. “Pak, kita boleh bawa Nur pulang. Tetapi kalau lihat kondisinya aku tidak tega membawanya pulang sekarang. Mungkin besok tetapi kalau keuangannya tidak cukup bagaimana Pak?”

Bapak menghela napas sebentar kemudian berkata , “ Mungkin besok ada muzijat ya Nduk. Ada rejeki buat bayar biaya penginapannya. Kamu pulang duluan sambil beritahu ke sekolah kakakmu kalau ia sedang sakit.” Aku mengangguk dan tersenyum dalam hati bangga juga mempunyai bapak yang hebat dan pandai menenangkan jiwa yang resah.

Begitu pagi menjelang , sudah banyak anak sekolah datang kerumah. Ternyata mereka hendak menjenguk kakakku. Ada juga rekan-rekan guru dan tidak lama mobil yang mengantar Mba Nur dari rumah sakit tiba. Dari kursi dorong yang terdapat infusnya Mba Nur membalas senyum para muridnya dan rekan-rekan sesama guru. Tetapi tidak bisa terlalu lama dan bapak yang mengambil alih untuk menjumpai mereka dan menyampaikan ramah tamahnya.

Tidak lama mereka pamit dan memberikan banyak bingkisan untuk Mba Nur. Aku terharu ternyata kakakku sangat istimewa dimata mereka.Sejak kakak sakit , aku merawatnya dan gantian malam harinya oleh ibu. Kalau Bapak tidak pergi tukang , juga ikut membantu kesembuhan kakak dan turut menjaganya. Sedikit demi sedikit kondisinya membaik.

Ia mulai bercerita kalau waktu seminggu yang lalu ia begitu depresi karena Mas Pur memutuskannya karena hendak dinikahkan dengan pilihan orangtuanya. “Aku mau untuk lari bersamanya ke Jakarta Ning, supaya orangtuanya dapat melihat kesungguhan kami.” Mba Nur terisak-isak berusaha mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan cerita.

“Ternyata begitu didepan orangtuanya , ia tidak mampu membelaku sebagai kekasihnya tetapi menuruti apa kata orangtuanya. Dan mereka tidak mau melihatku lagi. Sampai akhirnya , terakhir kami dipisahkan dengan diperkenalkannya seorang perempuan sebagai calon Mas Pur. Aku sakit hati Ning. Aku kecewa dengan Mas Pur.”

Aku memeluk erat Mba Nur dan menghiburnya. Aku merasa sangat sayang dengan kakakku ini. “Sabar mba, tidak usah nangis lagi. Mba masih punya aku, bapak , ibu yang sangat sayang, mba. Lain kali kalau ada masalah cerita ke aku.” Aku membantu mengusap air matanya. “Inget ga mba, waktu mba nangis di ruang tamu setelah ketemu Mas Pur di teras? Aku tuh habis mimpi buruk tentang mba Nur yang hanyut terseret air sungai yang deres.”kalimatku terhenti, karena aku sedih mengingat mimpi itu.

“Aku berusaha menolong tapi gagal, aku sedih sekali. Untunglah itu cuma mimpi ternyata aku masih melihat Mbaku sayang.” Hiburku dan mencubit pipi mba Nur serta dibalas cubitan dihidungku olehnya. “Terima kasih ya Ning, kamu memang adik yang baik. Mba sayang kamu.” Aku memeluk mba Nur erat dan berterima kasih juga atas anugrah yang indah ini.

***

Sekarang Mba Nur sudah dapat melupakan kejadian itu. Murid-murid silih berganti telah membuatnya ceria kembali. Senyum anak-anak didiknya pun sudah membantunya melupakan Mas Pur. Ada seorang pengusaha baru pindahan dari Jakarta menetap di desa kami. Aku pun pasti terpikat jika berhadapan dengannya. Hanya sayang, dia sepertinya tertarik dengan Mba Nur.

Terlihat beberapa kali ia berkunjung ke rumah walaupun diawali dengan mengantar Mba Nur pulang. “Mba Nur , suka ya dengan Pak Pengusaha itu?”godaku ketika melihat Mba Nur tersenyum sendiri setelah diantar pulang. “Iih , kamu tau apa sih. Kebetulan Pak Samsul itu searah denganku, ya tidak masalah kan sekalian diantar pulang.” Aku hanya tersenyum melihat Mba Nur sudah bisa menemukan tambatan hatinya lagi.

Ibu dan Bapak pun hanya merestui jika memang Pak Pengusaha baru itu masih sendiri dan memang sungguh-sungguh menyukai putrinya. Apalagi mereka tahu sebelumnya Mba Nur seperti apa sewaktu mengalami patah hati. Pak Pengusaha itu hanya mengangguk mendengarkan nasihat orangtuaku saat dia berkunjung ke rumah dan bertemu denganku, Mba Nur serta orangtua.

Akhir bulan, orangtua Pak Samsul berkunjung ke rumah. Alangkah senangnya hati Mba Nur, orangtua Pak Samsul meminta kakakku menjadi istri anaknya yang semata wayang. Ibu dan Bapak hanya merestui hubungan mereka.

****

Entah kenapa , air mataku selalu menetes tanpa diminta jika mengenang antara aku dan Mba Nur. Walaupun sekarang kami masing-masing sudah berkeluarga. Sama-sama memiliki anak tiga orang sudah besar-besar , namun rasa rindu berkumpul dengannya masih menjadi mimpi. Apalagi sekarang Mba Nur dan keluarganya sudah berada jauh dari Jakarta , tempatku tinggal sekarang ini. Ia berada di luar pulau Jawa. Biaya yang cukup besar jika aku hendak menemuinya. Kabar terakhir yang aku terima, ia sedang sakit. Hatiku tergerak ingin bersama Mba Nur merawatnya seperti dulu ketika di kampung.

“Aku sakit Ning. Seluruh badanku seperti lumpuh. Aku sekarang dirumah sakit , diinfus.” Aku sangat trenyuh setiap mendengar kalimat Mba Nur ketika kami bicara melalui handphone. “Aku rasa inilah akhir hidupku Ning, mati sia-sia apalagi suamiku sekarang sudah tidak memperdulikan aku lagi.” Kembali mataku terasa panas dan tak berapa lama keluarlah buliran air dari sudut mataku. “Mba, jangan bicara seperti itu. Mba pasti sembuh. Aku dan anak-anak akan berdoa untuk Mba Nur.”

Rasanya aku belum siap lagi kehilangan orang yang aku sayangi. Pertama kehilangan bapak. Aku yang merawatnya sampai akhir hidupnya dirumah sakit. Kanker prostat telah merenggut nyawanya. Ladang milik kami dijual untuk mengobati bapak. Bahkan sebagian tanah disamping rumahpun dijual untuk pengobatannya. Namun Sang Ilahi berkehendak lain.

Setulus hati aku memohon kesembuhan bapak tetapi ternyata ia menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari dalam damai. Suamiku menyusul ke kampung untuk mendampingi dan membantu apapun yang menjadi keperluanku dirumah mertuanya. Sedangkan anak-anak tetap di Jakarta. Syukur pada Tuhan, aku memiliki anak-anak yang cerdas, mandiri dan mengerti kondisi orangtuanya.

Kedua, adalah kematian suamiku sendiri tidak jauh selisihnya dari kematian bapak, hanya selang lima bulan dalam tahun yang sama. Kepergiannya yang mendadak membuatku dan anak-anak kalang kabut dibuatnya. Kami tidak bisa menangis karena tidak percaya tulang punggung keluarga terbujur kaku dihadapan aku dan anak-anak.

Untunglah semua kelelahan batin karena kehilangan suami dan ayah anak-anakku dapat kami lalui. Sempat aku merasa tidak kuat menjalani hidup apalagi anak-anak belum ada yang menikah , rasanya tiap hari aku mengeluh pada Tuhan. Anakku yang pertama selalu menguatkan aku dan mengajakku berdoa, memberiku semangat dan jalani semuanya seperti biasa sewaktu ada ayahnya. Mereka sungguh malaikat yang dikirim Tuhan untuk aku!

Dua tahun setelah keadaan normal aku menerima telpon , ibu sakit lumpuh! Karena tidak ada seorangpun yang bisa merawat, akhirnya akulah yang menjadi pilihan. Oh Tuhan betapa berat penderitaanku. Tetapi Tuhan memang sayang padaku, diberinya kesempatan setahun untuk ibuku sembuh total dan dapat berjalan lagi.

Lalu ibu pulang ke kampung dan beberapa bulan kemudian meninggal disana. Itulah penderitaan ketiga bagiku kehilangan orang yang ku kasihi. Sedih tak terkira rasanya hatiku, ku tinggalkan rumah dan anak-anak di Jakarta. Cukup lama aku disana termasuk mengurus jual beli rumah tinggal kami. Dua bulan aku bolak balik mengurus surat jual beli rumah dan termasuk serah terima dengan pemilik yang baru. Sebagian hasil dari penjualan rumah aku bagikan ke Mba Nur.

Lama tak bertemu Mba Nur, aku malah mendengar kabar tek mengenakan ini. Dalam tangis hanya doa yang mampu ku ucapkan, agar Allah memberikan aku kesempatan untuk merawat Mba Nur dan mengampuni suaminya jika belum mampu menyayanginya sepenuh hati.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *